Car Free Night di Bundaran Besar Di Kritik DPRD Kalteng Apa Jawaban Plt Sekda Pemprov
GEMA SUARA MEDIA.COM, PALANGKA RAYA — DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) melontarkan kritik tajam terhadap pelaksanaan Car Free Night (CFN) di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya yang digelar tiap akhir pekan. Sejumlah anggota dewan menilai kegiatan tersebut tidak memiliki kajian matang, menimbulkan kemacetan, dan merugikan masyarakat sekitar.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalteng Bambang Irawan, soroti acara Car Free Night Huma Betang Night yang diselenggarakan setiap malam minggu di Palangka Raya oleh Pemerintah Provinsi Kalteng.
Anggota DPRD Kalteng, menyebut program CFN di malam hari justru melenceng dari esensi kegiatan bebas kendaraan.
“Car Free itu harusnya mendidik masyarakat mengurangi polusi dan aktivitas kendaraan, bukan malah jadi ajang keramaian tanpa arah. Apalagi malam hari, banyak warga terganggu, jalan ditutup, dan pedagang liar menjamur tanpa pengawasan,” tegasnya, Jumat (17/7).
Ia juga menyoroti tidak adanya koordinasi yang jelas antara Pemprov, Pemkot, dan aparat keamanan, hingga berdampak pada ketertiban umum.
“Pemprov seharusnya evaluasi ini. Jangan sampai kegiatan ini hanya seremonial yang tidak punya nilai edukatif dan malah jadi ajang euforia semata,” tambahnya.

Jawaban Pemprov Kalteng: Bagian dari Penguatan Ekonomi Kreatif
Menanggapi hal itu, Plt Sekda Kalteng Leonard S Ampung menegaskan, Pemprov terus melakukan pembinaan dan evaluasi agar pelaksanaan ini lebih baik ke depan
“CFN bukan hanya soal menutup jalan. Ini ruang ekspresi masyarakat dan wadah pertumbuhan ekonomi kreatif. Memang perlu evaluasi, tapi jangan lantas dipatahkan. Kami terbuka atas masukan DPRD,” ujarnya.
Pemprov juga memastikan bahwa evaluasi tengah dilakukan untuk menata kembali pelaksanaan CFN, termasuk soal jam operasional, zona dagang, hingga rekayasa lalu lintas.
“Kita selalu membina dan mengingatkan teman-teman UMKM supaya mereka bisa naik kelas. Mereka harus memperhatikan kebersihan, kualitas makanan, kemasan, dan cara penyajian yang baik, sehingga menarik pembeli,” ujarnya, Kamis (17/7/2025).
Meski banyak dikritik, Leonard menyebut Car Free Night memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.“Dari beberapa malam yang kita hitung, uang yang beredar di Car Free Night itu sekitar Rp 350 juta sampai Rp 500 juta per malam. Kita akan terus tingkatkan kualitasnya, terus diingatkan, dan dievaluasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Leonard juga membantah isu penanganan sampah usai kegiatan Car Free Night justru dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya.

“Bukan, dari Dlh Kota aja Yang membersihkan juga dari DLH Provinsi,” tegasnya.
Ia memastikan evaluasi berkelanjutan akan dilakukan agar kritik yang muncul dapat dijawab dengan perbaikan nyata.
“Kita ingin Car Free Night ini bukan hanya tempat berjualan, tapi juga menjadi ajang yang tertata, bersih, dan benar-benar bisa menjadi ikon hiburan masyarakat Kalteng,” tutupnya.
( Mangboy).



